p

Wajib Tahu, Makanan Yang Terlalu Pedas Ternyata Dapat Merusak Otak

Apakah kalian pernah mendengar tentang jika mengkomsumsi cabai sangat bagus untuk kesehatan? Ya, pendapat itu memang benar. Namun, jika itu memang masih dalam kondisi yang wajar.

Jika kalian mengkomsumsi cabai yang terlalu pedas pun itu juga tidak akan baik untuk kalian, apalagi jika cabai yang dimakan termauk jenis carolina reaper yaitu jenis cabai yang terpedas di dunia. Ini dapat mengakibatkan suatu kondisi yang dapat menyerang otak kalian secara tiba-tiba. Biasanya kondisi ini dinamakan Reversibel Serebral Vasokonstriksi (RCVS).

Pasti kalian masih bingung dengan kondisi ini, untuk lebih detailnya kalian bisa melihat ulasan dari kondisi ini di bawah ini.

Apakah Yang Dimaksud Dengan Reversible Cerebral Vasoconstriction Syndrome/RCVS?

o

Reversibel cerebral vasoconstriksion syndrom (RCVS) ini adalah suatu kondisi yang langka yang terjadi secara tiba-tiba dan pada akhirnya dapat menyebabkan penyempitan (pengetatan) pembuluh yang memasok darah ke otak.

Gejala utama dari RCVS seperti yang saya katakan tadi, itu memang terjadi secara tiba-tiba, keadaan ini juga bisa diakibatkan dari makanan yang terlalu pedas. Akibatnya, mendadak kepala bisa terasa sangat sakit dan ini bisa juga disebut dengan kondisi “thunderclap” . Keadaan yang lebih parah yang akan terjadi adalah perdarahan di otak yang berujung stroke.

Hasil pemeriksaan untuk pasien RCVS ini berkisar dari pemulihan secara total, pada kebanyakan pasien mereka dapat mengalami kerusakan otak yang cukup parah. RCVS paling umum terjadi di antara perempuan dan pria  dari yang berusia 20 sampai 50.

Pengaruh Reversibel Cerebral Vasoconstriksi Syndrom(RCVS) Pada Tubuh

gr2

Kebanyakan pasien dengan RCVS dapat pulih dengan sepenuhnya. Namun, setelah sembuh pasien dapat mengalami masalah-masalah neurologis. RCVS biasanya jika sudah membaik tidak akan datang kembali.

Kondisi utama yang menyerupai Reversible Cerebral Vasoconstriction Syndrome

CNS Vasculin bisa dibilang sangat mirip dengan kondisi RCVS. CNS Vasculin ini adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan peradangan pada dinding pembuluh darah atau tulang belakang yang ada di otak. (Otak dan tulang belakang dapat membentuk sistem saraf pusat). CNS vaskulitis sering terjadi dalam situasi berikut:

-Tampaknya ini juga dapat timbul bersamaan dengan penyakit autoimun seperti lupus eritematosus sistemik, dermatomyositis dan rheumatoid arthritis (dalam kasus yang sebenarnya jarang terjadi).

-Timbul bersamaan dengan infeksi bakteri atau virus.

-Penyakit ini dapat disertai dengan adanya gangguan vasilitis sistemik (mempengaruhi seluruh tubuh), Wegener granulomatosis, mikroskopis polyangiitis dan juga sindrom Behçet’s

Para prnyedia layanan kesehatan perlu lebih memperhatikan tentang RCVS dan membedakan antara RCVS dengan CNS vaskulitis sesegera mungkin. Pengobatan pada kedua gangguan ini juga berbeda. Pengobatan RCVS tidak memerlukan obat imunosupresif, tetapi CNS vaskulitis bisa sangat memerlukannya..

Pemicu Dari Timbulnya Kerusakan Otak

Mengatasi-Rasa-Kepedasan

Gangguan yang terjadi dalam kontrol tonus otot polos dalam dinding pembuluh darah otak dianggap sebagai penyebab RCVS. Namun, masih belum dapat dibuktikan dengan pasti  tentang penyebab peradangan atau perubahan dalam struktur pembuluh darah otak atau jaringan pada orang-orang yang memiliki RCVS. Perubahan ini juga sering terjadi secara spontan.

Ada beberapa faktor eksternal yang dapat dihubungkan dengan RCVS dan biasanya ini termasuk dalam penggunaan resep atau obat-obatan terlarang, bahkan mengkomsumsi makanan yang terlalu pedas yang dapat memicu penyempitan arteri. RCVS juga dapat dikaitkan dengan faktor-faktor internal seperti tumor, yang dapat mengeluarkan zat-zat untuk mengerutkan pembuluh darah.

Diperlukannya Diagonosis Yang Lebih Teliti

l

Karena manifestasi klinis yang paling umum terjadi pada penderita RCVS adalah sakit kepala thunderclap yang terjadi secara berulang, maka diagnosis yang dilakukan juga harus tepat.

Entitas lain yang dapat hadir dengan tanda thunderclap sakit kepala termasuk perdarahan aneurysmal subarachnoid, perdarahan intraserebral, trombosis sinus vena serebral, pembedahan arteri cervicocerebral dan apoplexy hipofisis.

Idiopatik thunderclap sakit kepala adalah pengecualian diagnosis untuk pasien yang tidak menunjukkan adanya gejala yang disebutkan diatas.

Biasanya `untuk mengetahui kondisi ini, maka diagnosis yang dilakukan adalah dengan menggunakan CT scan kepala, yang kemudian diikuti oleh ujian CSF untuk perdarahan subarachnoid.

MRI dan resonansi magnetik angiografi yang dilakukan pada otak dan pembuluh kepala dapat membantu untuk mempersempit perbandingan diagnosis.

DSA scan otak akan terlihat normal dalam mayoritas pasien yang tidak memiliki RCVS, tetapi ini akan menunjukkan sifat perdarahan subarachnoid dan intraserebral bagi yang mengalaminya.

Pemeriksaan CSF biasanya akan bersifat normal, tetapi telah dilaporkan untuk menunjukkan kelainan kecil seperti terjadinya pleocytosis hingga memiliki 15 inti sel, memiliki sejumlah kecil eritrosit atau protein yang sedikit meningkat yaitu berkisar 50-60 mg/dl.

Lalu Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Mengatasinya?

ll

Pengobatan RCVS saat ini didasarkan pada pendapat ahli yang telah melaporkan serangkaian kasus. Uji coba yang akurat memang belum ada dan ini akan membuat pengobatan menjadi semakin sulit. Ada beberapa faktot yang membuat keadaan semakin sulit yaitu membuat diagnosis, kelangkaan kondisi yang terjadi dan resolusi spontan dari setiap kasus.

Ada beberapa kesepakatan umum bahwa jika melakukan penghentian obat maka ini dapat berpotensi merusak agen serotonergik dan simpatomimetik.

Pengamatan yang dilakukan juga sangat dalam meskipun kasus yang terjadi masih ringan. Banyak otoritas yang menganjurkan pengobatan empiris untuk pasien yang menunjukkan kelainan angiografi berat, terutama ketika iskemia serebral berkembang .

Resep obat-obatan yang terkait dengan RCVS adalah sebagai berikut:

-Antidepresan: Inhibitor reuptake Selective serotonin (SSRI) seperti Prozac®, Paxil® dan Zoloft®
-Obat untuk mengobati migrain: triptans (Imitrex®, Maxalt®), isometheptine (Amidrine®, -Midrin®) dan ergotamines (Migergot®, Ergomar®, Cafergot®)
-Imunosupresan: siklofosfamid (Cytoxan®) dan tacrolimus (FK-506®)
-Obat untuk mencegah perdarahan setelah melahirkan
-Obat-obatan anti-Parkinson: bromocriptine dan lisuride (Dopergin®, Proclacam® dan Revanil®)

Nah, sudah tahu kan gimana bahayanya jika kita makan-makanan yang terlalu pedas. Jadi, makan pedas sih boleh aja, asal hati-hati dalam memilih makanan pedaa ya.