membaca novel

Bagi Pecinta Novel, Ini Yang Bisa Kalian Ketahui

Apakah kalian pernah membaca sebuah novel? Bagaimana perasaan kalian ketika selesai membaca sebuah novel? Apakah kalian juga bisa terbawa suasana ketika membacanya? Terkadang pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul di kepala mimin. Kok bisa ya kita ikut terbawa suasana padahal kita cuma membaca doank, ibaratnya kayak lagi nonton drama Korea aja.

Ternyata guys, di dalam sebuah novel itu memiliki jalan cerita kayak yang ada di film, cuma bedanya novel dibuat dalam bentuk tulisan sedangkan film dalam bentuk gambar. Terus gimana sih proses dari pembuatan sebuah novel? Sebelum kalian mengetahui proses pembuatannya, lebih baik kalian kenali dulu lebih dalam tentang novel ini.

Nah, dibawah ini ada penjelasan tentang novel yang bisa kalian ketahui, simak yuk.

Pengertian Dari Sebuah Novel

Yang dimaksud dengan novel adalah sebuah karangan prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita tentang kehidupan seseorang dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat dari setiap pelaku. Seorang penulis novel disebut dengan novelis.

Genre dari sebuah  novel digambarkan memiliki “sejarah yang berkelanjutan dan komprehensif selama sekitar dua ribu tahun” Pandangan tentang novel ini tenyata berawal dari Yunani dan Romawi Klasik pada abad pertengahan, awal Roman modern dan tradisi novella.

membaca

Novella adalah suatu istilah dalam bahasa Italia untuk menggambarkan cerita singkat, yang kemudian dijadikan istilah dalam bahasa Inggris dan ini telah ada sejak abad ke-18. Ian Watt adalah seorang sejarawan sastra Inggris, yang menulis buku berjudul The Rise of The Novel (1957) dan ini merupakan novel yang pertama muncul pada awal abad ke-18.

Miguel de Cervantes, penulis dari buku Don Quixote, sering disebut-sebut sebagai novelis Eropa terkemuka pertama yang ada di era modern. Bagian pertama dari Don Quixote diterbitkan pada tahun 1605. Roman adalah narasi prosa panjang yang terkait erat dengan novel. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, roman adalah karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa dari masing-masing karakter.

buku

Walter Scott kemudian mendefinisikannya sebagai narasi fiktif dalam bentuk prosa atau sajak. Tujuannya adalah untuk menjadikan peristiwa yang ada di dalamnya tampak menjadi peristiwa yang luar biasa dan jarang terjadi, sementara dalam novel peristiwa-peristiwanya adalah rentetan peristiwa biasa dalam kehidupan manusia dan keadaan masyarakat pada saat itu.

Tetapi, ada banyak roman, termasuk roman-roman historis karya Scott, Wuthering Heights karya Emily Brontë dan Moby-Dick karya Herman Melville yang sering juga disebut sebagai novel. Roman yang disebutkan di sini berbeda dengan roman percintaan fiksi populer atau novel roman. Bahasa-bahasa Eropa lainnya tidak membedakan antara roman dan novel: “a novel is le roman, der Roman, il romanzo.” Begitulah kutipan yang menggambarkan persamaan antara roman dan novel.

Dulunya Novel Hanya Sebuah Tulisan Pendek

Sebelum memasuki tahun 1700-an atau sebelum abad 18, novel-novel pada awalnya belum berbentuk kayak yang kita lihat saat ini. Tulisan-tulisan yang disebut novel pada saat itu lebih mengacu kepada tulisan-tulisan pendek seperti Decameron. Tulisan ini  kemudian dikumpulkan oleh Boccaccio (1313-1375).

Di beberapa tempat, sebelum karya-karya novel mulai bermunculan, masih banyak terdapat karya sastra yang merupakan cikal bakal dari novel. Karya sastra itu bernama roman (dalam bahasa inggris disebut romance).

Giovanni-Boccaccio-Facts

Roman kemudian dibedakan dari novel karena beberapa alasan yaitu karena roman lebih menceritakan hal-hal yang tidak nyata di kehidupan manusia. Kalaupun menceritakan hal nyata, biasanya terlalu berlebihan sehingga masih terasa tidak masuk akal.

Cerita pada roman masih berunsur jamak, ini dikarenakan mereka memasukkan unsur-unsur magis, mantra, penyihir, dewa-dewi atau pahlawan-pahlawan mistis lainnya. Bahkan bahasa yang dipakai untuk menuliskan cerita roman ini adalah bahasa puisi.

novel

Sementara itu pada abad ke-12 di Perancis, cerita roman lebih merujuk pada kisah cinta khayalan yaitu seperti kisah pada dua alam yang berbeda. Aturan-aturan cerita yang dipakai juga masih terasa sangat kaku dan masih disesuaikan dengan aturan-aturan masyarakat pada saat itu. Disamping itu, roman biasanya akan ditulis berjilid-jilid seperti yang diungkapkan oleh Lord Chesterfield:

Yah, walaupun demikian, novel masih tidak dapat dipisahkan secara tegas dari roman. Sampai sekarang pun novel-novel juga ada yang bernuansa magis, mantra, gothic pun juga masih ada. Kalian pastinya masih ingat kan dengan ceritanya Harry Potter (J. K. Rowling ), The Hobbit (J.R.R Tolkien) atau kisah fantasi lainnya , yah kira-kira seperti itulah novel yang berbentuk magis.

Di Inggris, ketika James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1765, revolusi industri kini mulai terjadi. Di tahun 1770, pembaca novel mulain meningkat dan memiliki banyak peminat seperti menonton bioskop di masa kini.

Di masa itu, orang-orang sudah mulai memiliki penghasilan sendiri. Sebelumnya, penghasilan mereka kebanyakan berasal dari warisan-warisan pendahulunya. Karena mereka berpenghasilan sendiri, maka sifat individualistik pun mulai tumbuh.

Maka kemudian muncullah kelas-kelas menengah. Apalagi ditambah dengan kehadiran filsuf-filsuf naturalis seperti John Locke yang membuat semakin memperkuat keinginan orang untuk dapat mengubah nasib sendiri. Era seperti inilah yang menunjang inspirasi seseorang untuk menulis novel.

Jenis-jenis novel

Dalam sebuah novel, tidak hanya berarti berbentuk buku saja. Ada beberapa  jenis dari novel yang kalian harus tahu.

Jenis-jenis novel

Berikut ini adalah beberapa jenis dari novel berdasarkan kategorinya.

1. Jenis-jenis novel berdasarkan kejadian nyata dan tidak nyata

  • Novel fiksi adalah novel yang tidak nyata atau tidak ada kejadian sebenarnya yang terjadi. Novel jenis ini hanya bersifat fiktif (karangan) dari pengarang. Contohnya Harry Potter
  • Novel non-fiksi adalah novel yang berasal dari kejadian yang pernah ada atau ilmiah. Contohnya adalah Laskar Pelangi

2. Jenis-jenis novel berndasarkan genre cerita

  • Novel romantis. Cerita yang digambarkan dalam novel ini menceritakan tentang kasih sayang dan cinta yang tentunya bisa membuat kita baper. Contohnya Ayat-ayat cinta
  • Novel horor/menyeramkan. Novel ini berisi tentang cerita yang dapat membuat kita meras takut. Contohnya Bangku Kosong
  •  Novel misteri. Novel ini berisi tentang misteri. Contohnya novel Agatha Christie
  • Novel komedi. Novel ini berisi tentang cerita komedi yang pastinya bakalan membuat kita jadi ngakak. Contohya Kambing Jantan.
  • Novel inspiratif. Berisi tentang cerita kisah inspiratif yang akan membuat kita termotivasi. Contohnya Negeri 5 Menara.

3. Jenis novel berdasarkan isi,tokoh dan target pasar

  • Teenlit: berasal dari sebuah kata teen yang artinya remaja dan lit dari kata literature yang artinya sebuah tulisan /karya tulis. Jenis novel ini berceritakan tentang seputar permasalahan para remaja, pada umumnya yaitu tentang masalah percintaan atau persahabatan. Tokoh dan target pasar novel ini ialah pada anak usia remaja, usia yang di anggap labil dan mempunyai banyak permasalahan. contohnya: pada novel Me vs Heighells, Dealova, dan lain sebgainya.
  • Chicklit ialah bahasa slang dari Amerika yang artinya wanita muda, jadi jenis novel yang satu ini menceritakan tentang seputar kehidupan atau permasalahan yang di alami oleh seorang wanita muda pada umumnya. Jenis buku novel ini sebenarnya bisa di nikmati oleh siapa saja, namun umumnya cerita dari novel ini lebih kompleks, rumit bahkan kadang mengandung sebuah unsur dewasa yang tidak terlalu mudah di tangkap oleh si pembaca usia remaja. contohnya : Pada novel Miss Jutek, Testpack dan lain sebagainya.
  • Songlit :jenis novel yang satu ini di tulis berdasarkan sebuah lagu contohnya ruang rindu, di mana judul novel ini ialah judul sebuah lagu ciptaan band letto yang berasal dari band indonesia yang terkenal lewat sebuah lagu. Ini merupakan lagu yang menjadi soundtrack sinetron intan yang melambungkan nama Naysila Mirdad dan Dude Harlino yang merupakan artis dari sinteron tersebut, novel jenis ini bisa di nikmati oleh siapa saja baik remaja maupun orang dewasa.
  • Novel dewasa: novel jenis ini tentu saja hanya diperuntukkan hanya bagi orang dewasa karena umumnya menceritakan tentang seputar percintaan yang mengandung esek-esek. contohnya : pada novel Saman dan Larung penulis Ayu Utami

Ciri-Ciri Dari Sebuah Novel

Ciri-Ciri Novel secara Umum:

  • Jumlah katanya lebih dari 35.000 kata.
  • Terdiri dari setidaknya 100 halaman.
  • Waktu untuk membaca novel setidaknya 2 jam atau 120 menit.
  • Ceritanya lebih dari satu impresi efek, dan emosi.
  • Alur ceritanya cukup kompleks.
  • Seleksi ceritanya luas.
  • Ceritanya panjang, tapi banyak kalimat yang diulang-ulang.
  • Ditulis dengan narasi kemudian didukung dengan deskripsi untuk menggambarkan suasanya yang ada didalamnya.
  • Itu tadi ciri-ciri novel secara umum, selanjutnya ada yang namanya novel terjemahan, novel angkatan 20 dan 30an, dan novel remaja.

Ciri-Ciri Novel Dengan Terjemahan yang benar:

  • Menonjolkan watak dan perilaku tokoh berdasarkan latar belakang sosial budaya asing karya novel tersebut diciptakan.
  • Nama-nama tokohnya tidak begitu familiar.
  • Latar tempatnya gak ada di Indonesia.
  • Bahasanya tidak mendayu-dayu.

Ciri-Ciri Novel Angkatan 20 dan 30an

  • Bertema masalah adat dan kawin paksa.
  • Umumnya berisi kritikan terhadap adat lama.
  • Tokoh yang diceritakan dari muda hingga meninggal dunia.
  • Bahasanya kaku dan statis.
  • Bahasanya sangat santun.
  • Konflik yang dialami para tokoh kebanyakan disebabkan perselisihan dalam memilih nilai kehidupan (barat dan timur).
  • Menggunakan kata-kata yang berlebihan.

Ciri-Ciri Novel Remaja

  • Kebanyakan bertema tentang pertemanan atau persahabatan dan percintaan.
  • Bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang digunakan oleh remaja.

Unsur-Unsur Novel

1. Tema

Tema adalah ide atau gagasan utama dari pembuatan sebuah novel. Tema ini mengandung gambaran luas mengenai kisah yang akan diangkat sebagai ceritanya, sehingga ini akan menjadi sangat penting untuk memilih tema yang tepat sebelum memulai membuat sebuah novel. Sebab tema yang bagus akan menghasilkan cerita yang bagus pula.

2. Tokoh / Penokohan

Tokoh merupakan pemeran atau seseorang yang menjadi pelakor eh salah maksudnya pelaku dalam cerita sebuah novel. Sedang penokohan atau karakterisasi merupakan watak atau sifat dari tokoh yang ada dalam cerita novel tersebut.

Berdasarkan watak atau karakternya, tokoh masih dapat dibagi menjadi tiga, antara lain:

a. Tokoh protagonis, merupakan tokoh utama yang menjadi pusat perhatian dalam cerita. Tokoh utama ini digambarkan sebagai seseorang yang baik yang selalu mendapatkan masalah.

b.Tokoh antagonis merupakan tokoh yang menjadi musuh dari tokoh utama atau tokoh protagonis dalam cerita. Tokoh antagonis digambarkan dengan seseorang yang memiliki sifat yang buruk, tidak bersahabat dan selalu menimbulkan konflik dimanapun ia berada.

c. Tokoh tritagonis, merupakan tokoh yang menjadi penengah antara tokoh protagonis dan juga tokoh antagonis. Tokoh tritagonis ini digambarkan dengan seseorang yang memiliki sifat dan sikap netral, kadang bisa berpihak pada tokoh protagonis dan kadang berpihak pada tokoh antagonis. Akan tetapi di saat keduanya terlibat konflik, maka tokoh tritagonis ini bertindak sebagai pelerai dari keduanya.

Untuk menggambarkan karakter tokoh tersebut sang pengarang akan menampilkannya dengan cara yang berbeda-beda pada setiap novelnya, berikut cara yang biasa dilakukan pengarang untuk menggambarkan watak atau karakter dari tokoh novel:

  • Penggambaran dijelaskan melalui bentuk lahiriah seperti keadaan fisik, cara berpakaian, tingkah laku dan sebagainya.
  • Penggambaran dijelaskan dengan jalan pikiran tokoh.
  • Penggambaran dilakukan dengan melalui reaksi dari tokoh terhadap suatu hal atau kejadian tertentu.
  • Penggambaran dijelaskan melalui lingkungan dan keadaan sekitar tokoh.

3. Alur (Plot)

Alur (Plot) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa yang membentuk sebuah jalannya cerita pada novel. Secara umum alur pada novel dibedakan menjadi 3 macam, antara lain:

a. Alur maju (Progresif), merupakan alur peristiwa-peristiwa atau kejadian dalam cerita yang bergerak secara urut dari awal hingga akhir dan memiliki jalan cerita yang rapi. Biasanya alur maju ini digunakan pada novel autobiografi dan biografi.

b. Alur mundur (Regresif), merupakan alur peristiwa-peristiwa atau kejadian dalam cerita yang bergerak secara terbalik atau dari yang sudah berlalu. Pada alur ini cerita tidak diawali dengan pengantar.

c. Alur campuran, adalah perpaduan antara alur maju (Progresif) dengan alur mundur (Regresif ) namun kadang jalannya alur secara acak dan tidak rapi. Alur ini biasanya digunakan untuk novel misteri atau novel fantasi.

4. Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan alat utama pengarang untuk menjelaskan atau menggambarkan serta menghidupkan cerita secara estetika. Jenis-jenis gaya bahasa antara lainnya adalah :

  • Personafikasi : Merupakan gaya bahasa yang medeskripsikan macam-macam benda mati dengan cara memberikan berbagai macam sifat-sifat seperti manusia.
  • Simile (Perumpamaan) : Merupakan suatu gaya bahasa yang mendeskripsikan sesuatu dengan pengibaratan atau perumpamaan.
  • Hiperbola : Merupakan suatu gaya bahasa yang mendeskripsikan sesuatu dengan cara berlebihan dengan maksud memberikan efek yang berlebihan.

5. Latar atau Setting

Latar merupakan penggambaran terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita meliputi waktu, tempat, dan suasananya.

6. Sudut Pandang

Sudut pandang merupakan penempatan diri pengarang dan juga cara pengarang dalam melihat berbagai macam kejadian atau peristiwa dalam cerita yang dipaparkannya kepada para pembaca.

7. Amanat

Amanat merupakan pesan yang akan disampaikan, biasanya ini terdapat dalam cerita dalam sebuah novel.

Faktor Pendukung Terciptanya Sebuah Novel

Dalam setiap pembuatan segala hal pasti memiliki faktor pendukungnya. Sama halnya dengan pembuatan sebuah novel. Ada beberapa faktor yang mendukung yaitu:

-Meluasnya kemampuan membaca
-Percetakan
-Ekonomi pasar
-Individualisme

Lantas Apa Yang Membuat Seseorang Suka Membaca Novel?

Mungkin bagi seseorang yang tidak menyukai novel mereka akan merasa bosan jika hanya melihat tulisan saja. Namun, bagi yang menyukainya membaca novel memiliki arti tersendiri bagi mereka.

Seseorang Suka Membaca Novel

Nah, dibawah ini ada pendapat seseorang mengenai kenapa mereka bisa sangat menyukai novel.

Pencarian jati diri

Nggak cuma isi cerita yang lebih lengkap, novel juga menjelaskan karakter suatu tokoh dengan lebih mendalam. Pasalnya, dalam novel (terutama tokoh utama) selalu memaparkan pikiran-pikiran atau kata-kata yang cuma berputar dalam otak mereka. Dalam film, kita cuma bisa menebaknya lewat ekspresi wajah sang aktor sehiingga nggak dapat menggambarkannya dengan maksimal.

Kita pun akan memahami suka-duka yang dialami suatu karakter. Alhasil, kita lebih mudah jatuh cinta atau benci sama karakter yang ada dalam novel. Makanya, Lifehack bilang kalau membaca novel sama dengan mencari jati diri, karena bisa-bisa ada salah satu tokoh yang menginspirasi kita berkat tindakannya maupun pola pikirnya.

Mengisi waktu luang

Karena novel sifatnya bercerita, jadi buku yang satu ini cocok digunakan untuk bacaan selagi ada waktu luang. Banyak juga yang membaca novel sambil dibswa kemana-mana lalu membacanya ketika ada waktu luang. Misalnya ketika lagi naik transportasi umum, sedang istirahat jam kantor dan masih banyak lagi.

Ngefans penulisnya

Alasan lain adalah karena ngefans dengan penulisnya. Misalnya saja ada yang ngefans sama Raditya Dika, maka setiap Raditya Dika merilis novel baru, kemudian akan membeli novelnya. Gak cuma ngefans doank sama orangnya, tapi sama novelnya juga ya.

Ruang Berimajinasi

Poin yang paling penting disini adalah kebebasan kita berimajinasi dalam novel. Setiap negeri impian cuma diceritakan lewat kata-kata, sehingga wujudnya sesuai dengan imajinasi kita. Nggak ada batas space atau budget seperti yang dipertimbangkan dalam film. Begitu pula dengan bentuk wajah dan sosok para tokoh, semua bebas sesuai dengan khayalan kita!

Sebaliknya, film memang bisa bikin kita amazed sama kerennya animasi CGI zaman sekarang. Namun, imajinasi kita jadi ‘terkotak’ atau terbatas sama animasi itu. Faktor inilah yang bikin novel juga lebih baik daripada komik. Sebab, komik menyajikan gambar yang bikin pikiran kita terpaku sama gambar itu. Benar kan pasti kalian lihat gambarnya doank baru baca tulisannya.

Membuat kita menjadi orang yang lebih baik

Membaca sebuah novel pastinya akan membuat kita tahu, berbagai macam jenis kepribadian dari setiap tokoh yang dituliskan oleh penulisnya. Kebaikan dari seorang tokoh selalu bisa membawa kita kepada perasaan haru yang sangat dalam. Gak jarang, kalian akan lebih banyak menangis ketika membaca sebuah novel fiksi dari pada versi filmnya.

“Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima yang Sebanyak-banyaknya.” – Andrea Hirata, Laskar pelangi. Apa yang dikatakan oleh Pak Harfan merupakan suatu contoh kebaikan yang bisa kalian pelajari di kehidupan nyata. Melalui membaca kalian akan tahu bagaimana baik buruknya seseorang.

Itulah dia yang bisa kalian tahu tentang novel. Jadi intinya disini jika kita suka membaca novel maka akan meningkatkan kemampuan kita dalam menulis. Karena dengan membaca novel kita akan mendapatkan kosa kata yang baru. So, tingkatkan lagi yuk keinginan untuk membaca.